CIC Minta Pelaku Pembunuh Mara Salem Dihukum Mati

  • Whatsapp
banner 468x60

JAKARTA-KANALPK

Peristiwa penenbakan seorang wartawan di Simalungun Sumatera Utara yakni Mara Salem Harahap atau Marsal akhirnya menemui titik terang. Dimana pihak Kepolisian telah menangkap 3 orang yang diduga sebagai otak dari peristiwa penenbakan tersebut,dan telah menetapkan tiga tersangka, di mana dua merupakan eksekutor dan seorang lagi otak pembunuhan.

Sementara,Kapolda Sumut, Irjen Pol Panca Putra Simanjuntak menerangkan,”masing-masing tersangka berinisial YFP, A dan S. “YFP adalah humas Ferrari, sementara S pemilik Ferrari,” kata Irjen Panca saat menggelar konferensi pers, Kamis (24/6/2021) di Mapolres Pematang Siantar, Sumatera Utara.

Dari tiga tersangka itu terdapat seorang oknum TNI berinisial A. Dia bertindak sebagai eksekutor penembakan terhadap Marsal.

Peristiwa ini,menorehkan luka batin mendalam bagi seluruh insan pers tanah air. Untuk itu diharapkan kepada pihak Kopolisian,Jaksa dan Hakim dapat menjatuhkan hukum mati bagi para pelaku.

Ketua Umum Corruption Investigastion Committee (CIC) R.Bambang.SS yang juga seorang wartawan,merasa geram dan mengutuk keras atas peristiwa ini,dimana terbunuhnya seorang wartawan yang juga seorang Pemimpin Redaksi disalah satu media yakni Marsal Harahap, dan meminta kepada para penegak hukum,termasuk hakim yang mengadili pelaku dan otak di balik peristiwa ini dihukum mati.

“ Saya selaku Ketua Umum CIC dan juga seorang wartawan, meminta dengan tegas kepada penegak hukum,termasuk hakim yang mengadili otak dan pelaku yang mengakibatkan terbunuhnya saudara kita Marshal Harahap dihukum mati. Mereka adalah “predator” pemburu terhadap wartawan yang sangat keji dan biadab tidak berperi kemanusiaan, demi kepentingan usaha ilegal,” ujar R.Bambang.SS kepada www.kanalpk.com Jumat (25/6/2021) pagi.

Jika para pelaku dihukum mati, sebagai pembelajaran efek jera agar para predator tidak semenah menahnya melakukan kekerasan terhadap insan pers di tanah air.

“Kekerasan apalagi menghilangkan nyawa tidak dapat dibenarkan dengan alasan apapun, apalagi kekerasan itu dilakukan terkait pemberitaan,”Ketua Umum CIC R.Bambang.SS.

Ketum CIC,mengingatkan, kekerasan bukan jalan keluar untuk menyelesaikan persoalan terkait pemberitaan. Ada mekanisme yang bisa ditempuh sesuai UU pokok Pers No 40 Tahun 1999 .

“ Bagi pihak-pihak yang merasa dirugikan pers bisa menempuh prosedur penyelesaian sengketa sebagaimana diatur dalam UU Pers Nomor 40 tahun 1999 dan Peraturan Dewan Pers, tidak perlu menggunakan cara-cara kekerasan dan bar-bar seperti itu, karena wartawan bukan musuh,” ungkapnya.

Agar peristiwa seperti ini tidak lagi terjadi, R.Bambang.SS mengingatkan kepada segenap unsur pers tanah air untuk tetap mengedepankan keselamatan diri dan selalu berpedoman pada kode etik jurnalistik dalam menjalankan tugas professional sebagai wartawan.(SHELLA/BURHANUDDIN)

banner 300x250

Related posts

banner 468x60