CIC Nilai Airlangga Belum Layak Jadi Capres di 2024

  • Whatsapp

JAKARTA-KANALPK

Di tengah kasus virus corona yang begitu mengkhawatirkan terjadi di Indonesia, ada satu topik yang masih menjadi perhatian banyak pihak. Meski momennya masih lama, yakni tokoh-tokoh yang bisa menjadi kandidat atau calon presiden dan wakil presiden di 2024 nanti.

Pemilihan presiden (Pilpres) 2024 masih lama. Namun, survei-survei politik kandidat capres 2024 terus bermunculan.

Lembaga-lembaga survei itu adalah Charta Politika, New Indonesia Research & Consulting, dan Indonesia Political Opinion (IPO).

Hasil survei ketiga lembaga tersebut terkait kandidat capres Pilpres 2024 secara konsisten memunculkan sejumlah nama yang sama di enam besarnya.

Nama-nama yang kerap muncul di enam besar hasil survei antara lain Ganjar Pranowo (Gubernur Jawa Tengah), Prabowo Subianto (Menhan), Ridwan Kamil (Gubernur Jawa Tengah), Sandiaga Uno (Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif), dan Agus Harimurti Yudhoyono atau AHY (Ketua Umum Partai Demokrat) serta Airlangga Hartarto Ketua Umum Partai Golkar.

Lembaga survei Charta Politika merilis hasil survei dengan menyimulasikan 10 sosok yang dikaitkan dengan pemilihan presiden 2024. Nama Gubernur Ganjar Pranowo berada di posisi pertama dengan elektabilitas 20,6 persen.

R.BAMBANG.SS KETUA UMUM CIC

Ketua Umum Corruption Investigastion Commiittee (CIC) R.Bambang.SS mengungkapkan,”Sosok Ganjar Pranowo berada di tingkat pertama, Prabowo Subianto dengan elektabilitas 17,5 persen,”tutur R.Bambang.SS Jumat (3/12/2021) kepada awak media di Jakarta.

Sementara kedua nama diatas mengungguli Ketua Umum Partai Golkar yang juga Menteri Koordinator Perekonomian, Airlangga Hartarto. Pemasangan baliho menjadi salah satu hal yang berdampak kepada elektabilitasnya, jelas sosok Airlangga Hartarto belum layak menjadi Presiden RI 2024 mendatang.

R.Bambang.SS mengungkapkan,” Pilihan menggunakan baliho dengan dana sangat besar akan menjadi efek bumerang dalam situasi krisis seperti sekarang ini. “Karena ketika bicara kondisi sulit, tapi ada elite yang bisa menggunakan uang miliaran untuk kebutuhan dirinya narsis, itu akan direspons berat,”ujar Ketua Umum CIC.

Menurut R.Bambang.SS, dengan makin kuatnya elektabilitas Ganjar sebagai calon presiden, PDIP –yang masih bersikukuh mengusung Puan — sebaiknya mempertimbangkan kembali calon yang nantinya diusung pada Pemilihan Presiden 2024.

Pergerakan elektabilitas tokoh di luar nama-nama dominan ini dipengaruhi beberapa faktor. Di antaranya, adanya penurunan respons pada tokoh yang selama ini populer.

Salah satu hasil dari sigi nasional yang dilakukan sejumlah lembaga adalah mengenai elektabilitas sejumlah tokoh yang berpeluang menjadi Calon Presiden empat tahun mendatang.

Ketua Umum CIC memaparkan,”Selain Indikator, pada bulan ini pun lembaga Indometer mengumumkan hasil surveinya. Survei Indometer dilakukan pada 25 September sampai 5 Oktober 2021 melalui sambungan telepon kepada 1.200 responden dari seluruh provinsi yang dipilih acak dari survei sebelumnya sejak 2021. Margin of error dari survei ini adalah sebesar 2,98 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen,disini nama Gubernur Jawa Tengah ini menjadi yang teratas dari hasil sigi teranyar Indikator.Berdasarkan Survei Indikator, Ganjar dipilih 16,7 persen responden. Ganjar menjadi yang paling menonjol dalam tiga survei terakhir Indikator, yaitu pada Mei, Juli, dan September 2021,”ungkap R.Bambang.SS.

Tokoh yang terdiri dari petinggi partai, pimpinan miter atau purnawirawan, menteri dan kepala daerah itu dipantau eksposurnya dalam pemberitaan daring terkait politik keamanan, ekonomi politik, perempuan dan orang muda, serta percakapan di Twitter,namun dari sekian nama yang muncul,rakyat hanya terkesan satu nama yakni Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pramono yang layak menjadi Presiden RI 2024 mendatang.

CIC menilai,menilai kepala daerah menjadi sosok yang paling potensial dipilih pada Pilpres 2024. Sebab,kepala daerah memiliki ruang untuk menunjukkan prestasinya melalui berbagai kebijakan.

R.Bambang.SS menegaskan,”Saya kira saya masih melihat setidaknya dua sampai tiga pemilu ke depan sumber kepemim
pinan kita masih berasal dari kepala daerah,”pungkasnya.

CIC berharap era kepemimpinan dari kalangan aktivis, militer, dan politisi sudah usai pasca
desentralisasi pemerintahan. Tak hanya itu, sambungnya, suasana politik Indonesia yang cenderung stabil membuat tiga latar belakang itu tak laku lagi dijual dalam pemilu.

(Jupiter Sembiring/Burhanuddin)

Related posts