Ketum PWRI Minta Kapolri Usut Tuntas Kasus Penembakan Wartawan

  • Whatsapp
banner 468x60

JAKARTA-KANALPK

Kasus penembakan wartawan di Simalungun,Ketua Umum PWRI Dr.Suryanto.SH.MH.MKn H. mengutuk keras aksi penembakan terhadap wartawan dan mendesak agar Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo untuk mengusut tuntas dan menangkap pelaku penembakan yang menewaskan Pimpinan Redaksi salah satu media online, Mara Salem Harahap (42) di Simalungun, Jum’at (18/6/2021) tengah malam kemarin.

Dr.Suryanto.SH.MH.MKn mengatakan,” penembakan hingga menewaskan Mara Salem merupakan bukti nyata bukan saja teror dan kriminalisasi yang terjadi saat wartawan menjalankan tugas profesinya, tapi aksi kekerasan sampai membunuh wartawan juga terjadi saat liputan menjalankan tugasnya di lapangan,”tegas Ketua Umum PWRI kepada wartawan di Jakarta Sabtu (19/06/2021).

Menurutnya, dalam Undang-undang Pers nomor 40 Tahun 1999, kemerdekaan pers dijamin, artinya wartawan dilindungi oleh Undang-undang dalam menjalankan tugasnya.

“Polisi harus mengusut tuntas kasus penembakan yang menewaskan Mara Salem Harahap, jika memang kriminalisasi yang dialaminya terkait tugasnya sebagai jurnalis, pelakunya harus dihukum seberat beratnya”, ungkap Dr.Suryanto.SH.MH.MKn Ketum PWRI.

Dr.Suryanto menambahkan, peristiwa yang dialami Mara Salem Harahap menjadi presden buruk terhadap kemerdekaan jurnalis dalam menjalankan tugasnya yang dilindungi Undang-undang.

Karena itu wartawan senior ini, berharap para jurnalis tetap mawas diri dalam menjalankan tugas jurnalistiknya dan tetap menyajikan informasi kepada publik secara objektif dan independen.

“Ini menjadikan tugas berat Kapolri untuk mengungkap siapa pelaku pembunuhan, dimana profesi seorang wartawan dalam UU No.40 Tahun 1999 Tentang Pers seharusnya tidak saja dijamin tapi mendapat perlindungan hukum saat menjalankan tugas profesinya sebagai seorang wartawan di lapangan,” pungkasnya.

Ancaman terhadap profesi seorang wartawan semakin nyata padahal sebagaimana UU 40/1999 tentang pers profesi ini dijamin dan mendapat perlindungan hukum tapi hari ini kita menyaksikan betapa mudah kejahatan menghukum seorang wartawan hanya karena gara-gara sebuah berita.

Padahal bila ada berita yang salah atau tidak sesuai informasi yang benar, masyarakat dapat membuat keberatan melalui hak jawab ke media terkait dan itu sudah diatur dalam UU No 40 Tahun 1999 tentang pers, bahkan media yang tidak menayangkan hak jawab, Penjab/Pemrednya terancam hukuman kurungan 6 bulan penjara atau denda Rp.500 juta. Jadi bukan menghabisi nyawa wartawan yang membuat beritanya.

DPP PWRI turut Berdukacita semoga arwah Marsal Harahap,
diterima disisi Tuhan Yang Maha Esa dan keluarga Marsal Harahap tabah juga bersyabar atas musibah ini.

Marasalem Harahap atau akrab disapa Marsal, sebagaimana diketahui selama ini adalah seorang wartawan sekaligus pemilik media online di Pematang Siantar, Sumatera Utara, ditemukan meninggal dunia pada Sabtu (19/6/21) dini hari.

Hasanuddin Harahap yang merupakan abang kandung dari Marsal kepada wartawan mengatakan, adiknya tersebut ditemukan pertama kali oleh warga sekitar 300 meter dari rumahnya di Huta 7 Pasar 3 Nagori Karang Anyer Kabupaten Simalungun.(R.BAMBANG.SS)

banner 300x250

Related posts

banner 468x60