Mengenal Gerakan CIC Anti-Korupsi

  • Whatsapp

Oleh :DJ Sembiring

Gerakan ini dilahirkan atas sebuah keprihatinan. Keprihatinan yang disampaikan oleh sebuah survey yang dilakukan KPK pada tahun 2011 hingga kini di Jakarta dan seluruh Nusantara, Studi ini menyajikan fakta bahwa ternyata hanya 6% orang tua yang mengajarkan kejujuran pada anak-anaknya.

Kejujuran yang dimaksud di sini bukan kejujuran dalam arti definisi kejujuran, tetapi lebih kepada bagaimana kejujuran tersebut dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari.

Orang tua tidak bisa mengaitkan bahwa menyontek atau menyerobot antrian adalah bentuk-bentuk perilaku koruptif.

Hal ini memberi pemahaman bahwa korupsi adalah mengambil hak orang lain untuk kepentingan diri sendiri. Definisi ini bukan hanya memberikan gambaran pada apa yang sering diliput media sebagai tindak pidana korupsi, tetapi juga menyoroti masalah-masalah perilaku-perilaku koruptif. Dan bila kita percaya bahwa tindakan koruptif itu adalah bentukan atau evolusi dari perilaku-perilaku koruptif sejak kecil, maka fakta ini sungguh menakutkan.

Lantas bagaimana kita mencegahnya? Studi tersebut juga memberikan jawaban atas pertanyaan ini, bahwa perempuan atau ibu masih dianggap figur sentral dalam memberikan pendidikan moral pada anak dan keluarga.

Fakta ini memberikan kesempatan untuk menggerakan pencegahan korupsi melalui Anak Bangsa. Hasil inilah yang kemudian menjadi landasan kuat untuk melahirkan gerakan CIC Anti-Korupsi.

Perempuan dengan perannya sebagai ibu, sebagai profesional dengan karakternya yang khas untuk melahirkan, mengembangkan, memelihara dan berbagi serta kebutuhan berkumpul yang besar – membuat perempuan menciptakan kesempatan sosialisasi yang lebih banyak dalam masyarakat kita.

Lihat saja kegiatan-kegiatan sosial seperti: pengajian, arisan, pertemuan orangtua di sekolah, kursus-kursus masak atau merajut dll, bisnis-bisnis rumahan seperti jilbab; baju muslim, dll, semuanya lebih banyak melibatkan lebih banyak perempuan. Fakta sosial psikologis inilah yang kami percaya dan menjadi dasar mengapa melibatkan perempuan menjadi sebuah kesempatan strategis dengan kemungkinan keberhasilan yang tinggi pemberantasan korupsi dinegeri ini.

Sejauh ini, apa saja kegiatannya?

Secara umum program ini terdiri ragam kegiatan pertama adalah pelatihan untuk fasilitator tentang pencegahan dan pemberantasan korupsi dan membentuk para calon DPW dan DPD Kedua, penyebaran pengetahuan anti korupsi (sosialisasi) yang dilakukan oleh para DPW dan DPD.

Untuk menyebarkan pengetahuan antikorupsi, para DPW CIC ditingkat provinsi dan DPD CIC ditingkat kabupaten /kota menggunakan sosialisasi kepada seluruh elemen masyarakat tentunya.

Dipercaya dapat menghindarkan kita dari perilaku-perilaku koruptif, kejujuran, keadilan, kerjasama, kemandirian, kedisiplinan, bertanggungjawab, Kegigihan, keberanian, dan kepedulian melakukan pencegahan dan pemberantasan korupsi.

Bagi kami, kesadaran ini adalah buah manis di hari penutup pelatihan. Mereka mulai mengambil isu korupsi dan pentingnya berperilaku anti korupsi ke dalam rumah mereka. Karena dari rumahlah, kita semua menjadi seperti apa kita sekarang.

Kami tidak pernah putus menyampaikan terima kasih dan salut pada semua yang teman-teman ini lakukan. Mereka melakukannya dengan sumber daya mereka sendiri. Setiap hari, selalu saja ada lebih dari 5 foto kegiatan yang mereka lakukan terpampang di FB grup yang memang mereka buat. Dari media sosial inilah kami tahu bagaimana pergerakan ini semakin hari semakin menguat.

Korupsi bisa terjadi tanpa mengenal gender. Kenapa dispesifikasikan kepada kaum perempuan?.

Menambahkan saja dari penjelasan sebelumnya, karena perempuan dengan segala kelembutan memiliki kekuatan dan cara yang khas untuk melawan, melindungi keluarga dan lingkungan yang dikasihi dari hal-hal buruk yang mengancam kehidupan. Ada kutipan yang menarik: bahwa perempuan adalah arsitek pembentukan masyarakat yang sebenarnya.

Jadi kenapa tidak mulai dari diri kita, itulah sebabnya kita sebut dengan’ CIC Anti Korupsi’.

Menunjuk pada diri sendiri dan menjadi identitas diri. CIC anti korupsi ingin menjadi bagian bangsa menuju Indonesia bebas dari korupsi, maka kami bergerak.

Para anggota CIC akan terus melakukan sosialisasi kepada kaum ibu rumah tangga, guru, dosen, pengusaha, pengacara, hakim, jaksa, pengadilan, PNS, Polri, TNI angkatan udara,TNI angkatan darat, TNI angkatan laut, LSM, pemimpin agama, pemimpin masyarakat, difabel, wartawan, Gubenur,Bupati dan walikota diseluruh Nusantara,agar angka korupsi bisa menurun. Kalau kita lihat semeter satu tahun 2021,
penindakan dan pemberantasan korupsi masih buruk, baik pada Kejaksaan,Polri dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Penulis adalah Wakil Ketua Umum CIC serta Aktifis Penggiat Anti Korupsi di Indonesia.

Related posts