Proyek Irigasi Primer Dan Sekunder Dikerjakan CV Martua Diduga Asal Jadi

  • Whatsapp

BREAKING NEWS

Simalungun-Kanalpk

Demi untuk memenuhi kebutuhan kecukupan air bagi petani, pemerintah terus memperbaiki cakupan air ke seluruh persawahan di Desa Desa melalui pihak Dinas pengelolaan sumber daya Air, agar para petani dapat menghasilkan produksi padi yang melimpah, sehingga Negeri ini tidak kekurangan bahan pangan.

Namun sangat di sayangkan dalam pengerjaan proyek irigasi di Desa Maligas Bayu ( Mancuk) kecamatan Huta Bayu Raja kabupaten Simalungun Provinsi Sumatera Utara di nilai dalam pengerjaan proyek nya amburadul,dalam pengerjaan pemasangan batu padas, tidak di lihat dari segi kondisi medanya yang penuh air,” hanya dimasukkan padas terus di tuangkan adonan semen nya bang,,dalam kondisi berair sebut warga Desa Mancuk saat di tanya terkait jalannya pengerjaan proyek irigasi, setelah itu gak tau bang ucapnya lagi,”jangan tulis namaku ya bang,, pintanya dan berlalu,tertuang dalam aturan tersebut sudah jelas tertera dalam UU No.14 tentang keterbukaan informasi publik selain UU KIP ada aturan lain yang mempertegas tentang transparansi pelaksanaan program pemerintah,kini jadi pemantauan para jurnalis tentang sering menghilang diduga untuk menutupi nilai kontrak kerja terbukti tidak tercantum volume fisik bangunan secara detail.

Berulang kali awak media turun ke lokasi kegiatan guna konfirmasi secara langsung, namun pihak pengelola kegiatan selalu menghindar,telah berulang awak media juga menghubungi melalui telepon selulernya namun tidak membuahkan hasil kesepakatan bertemu,pada Senin 11/04 bekisar pukul 14,30wib kembali awak media selaku sosial kontrol, melihat kondisi pekerjaan irigasi di Desa Maligas Bayu kecamatan Huta Bayu Raja kabupaten Simalungun, tepatnya di Desa Mancuk, afdeling 5 Dosin kecamatan Huta Bayu Raja,dalam pengamatan awak media proyek telah usai di kerjakan, tinggal menutup celah dinding proyek dengan tanah, namun sangat di sayangkan penutupan celah dinding menggunakan sampah kayu kayu serta pelepah pohon sawit,dan setelah itu ditutup urugan tanah dengan mencangkul bibir sisi dinding proyek irigasi tersebut.

Lima pekerja dalam penutupan celah dinding proyek irigasi tersebut hanya diam saat di tanya terkait proses penutupan celah dinding proyek irigasi tersebut, mengapa harus menggunakan kayu serta pelepah pohon sawit terlebih dahulu baru ditimbun urugan tanah,dan pengambilan tanah urugan harus di bibir dinding proyek irigasi,sebab bila dinding proyek irigasi di gali mengakibatkan erosi dan memperlebar batas perairan,makna dinding proyek irigasi tak berguna tepat.

Semoga dengan kondisi pekerjaan irigasi yang di nilai amburadul pihak kedinasan pengelolaan sumber daya air dapat mengevaluasi ulang sebagai bentuk kepedulian terhadap pentingnya bangunan tersebut guna kepentingan umum lebih baik.

( RICARDO H SIMBOLON ) .

Related posts