Tersangka Asabri Lakukan Transaksi Bitcoin Pinjam Nama

  • Whatsapp
Direktur Penyidikan Pidana Khusus Kejaksaan Agung Febrie Adriansyah
banner 468x60

JAKARTA-KANALPK

Pihak Kejaksaan Agung menduga tiga tersangka kasus korupsi PT Asabri menyembunyikan hasil kejahatannya melalui transaksi mata uang kripto atau bitcoin.

Ketiga tersangka tersebu melakukan transaksi bitcoin dengan meminjam nama untuk melakukan pencucian uang.

Sementara, Direktur Penyidikan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (JAM Pidsus) Febrie Adriansyah menyatakan, pihaknya masih mendalami jumlah transaksi bitcoin yang dilakukan ketiga tersangka.

“Itu masih kita perdalam. Yang jelas ada beberapa transaksi melalui itu (bitcoin). Tapi kita belum dapat kepastian nilainya dan kita belum dapat juga nilai real yang bisa kita amankan disitu. Masih kita perdalam,” kata Febrie di Kejagung RI, Jakarta, Rabu (21/4/2021) kepada wartawan.

Adapun ketiga tersangka tersebut yang dijerat pasal tindak pidana pencucian uang dalam kasus ini adalah Benny Tjokrosaputro, Heru Hidayat, dan Jimmy Sutopo.

Sementara itu, hingga saat ini total ada sembilan tersangka dalam kasus korupsi Asabri.

Menurut Direktur Penyidikan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (JAM Pidsus) Febrie Adriansyah mengungkapkan,”Ini lagi pengembangan ke mana kira-kira kalau ada modus pencuciannya ini yang dicari penyidik. Termasuk salah satu kita curigai ada transaksi yang dicuci melalui bitcoin,” ujar Febrie.

Saat ini Kejagung, menggandeng Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), sedang menghitung total kerugian keuangan negara akibat korupsi di PT Asabri. Kerugian negara sementara ini ditaksir mencapai Rp 23,73 triliun.

Sampai saat ini,pihak Kejaksaan Agung mengatakan bahwa tersangka kasus dugaan korupsi PT Asabri (Persero) menggunakan nama lain (nominee/pinjam nama) saat bertransaksi menggunakan mata uang kripto alias bitcoin.

Modus transaksi dengan bitcoin kini tengah diselidiki oleh penyidik lantaran diduga merupakan cara pencucian uang dari hasil tindak pidana korupsi Asabri.

“Masih nominee (pinjam nama), nah salah satu kesulitannya tadi dia (tersangka) jarang menggunakan nama langsung. Kalau tidak nominee, keluarga,” kata Direktur Penyidikan pada Jaksa Agung Muda Pidana Khusus Febrie Adriansyah saat dikonfirmasi.

Febrie mengatakan, dalam menganalisis transaksi bitcoin itu pihak penyidik memerlukan bantuan dari Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK).

Kejagung sebelumnya sempat memanggil sejumlah pihak yang berkaitan dengan transaksi bitcoin di Indonesia, salah satunya Direktur PT Indodax Nasional Indonesia berinisial OAD untuk menelusuri perkara ini.

Indodax sendiri merupakan perusahaan dagang aset kripto yang sudah terdaftar dan legal menurut Badan Pengawasan Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti).

Berdasarkan catatan, belum ada aset yang berkaitan dengan bitcoin disita oleh penyidik dari tersangka. Dalam perkara ini, dugaan sementara kerugian keuangan negara ditaksir sebesar Rp23,7 triliun. Adapun nominal sementara yang terkumpul dari sejumlah aset sitaan milik tersangka berkisar Rp10,5 triliun.

Aset sitaan itu di antaranya sejumlah tambang dan barang mewah seperti mobil, apartemen, hotel, tanah, hingga beberapa kapal tongkang. Barang-barang itu akan digunakan untuk mengembalikan kerugian keuangan negara dan sebagai alat bukti.

“Dari analisis alat bukti elektronik, nanti kami ketahui di mana saja dari percakapan atau dari bukti itu aliran dana ke perusahaan-perusahaan mana yang memakai bitcoin. Nah itu sedang didalami,” ucapnya. (R.BAMBANG.SS)

banner 300x250

Related posts

banner 468x60