Tudingan Sekap Anak dan Istri Terhadap TPS Tidak Benar, Tersangka Edarkan Berita Bohong

  • Whatsapp
banner 468x60

JAKARTA-KANALPK

Menurut dari keterangnnya, Dr. Ida Rumindang Radjagukguk SH, MH mengakui, ada perlakuan tidak wajar oleh menantu kesayangan yang sudah dianggapnya seperti anaknya sendiri, hal ini membuat konflik pasangan Advokat senior, Dr. Djonggi M Simorangkir SH., MH ini semangkin kian memanas.

Dalam keterangannya Dr. Djonggi M Simorangkir SH, MH, dengan awak media mengatakan, sang menantu sudah dibiayai kuliah lagi untuk menggapai gelar S2 di Unpad dan juga untuk menjadi Kurator, serta mertuanya Djonggi juga yang mengurus Margaretha hingga bisa menjadi advokat di PT Jakarta.

Menurut Djonggi, Karena sudah keterlaluan prilakunya, membuat Mertuanya Ida Rumindang melaporkan Margaretha Elfrieda Br Sihombing yang notabenenya istri anak pertamanya berinisial (TPS), sesuai LP No. 251/K/X/2020/ Sektor MT, tertanggal 26 Oktober 2020 terkait dugaan telah tindak pidana penganiayaan yang terjadi di Apartemen di Cik Di Tiro, Menteng, sesuai lokasi tempat kejadian perkaranya.

Sementara itu, TPS dalam penjelasannya mengatakan, selain dugaan penganiayaan, dia juga telah menghina bahkan menyebarkan fitnah kepada dirinya dan keluarganya. Imbasnya, Margaretha kini telah ditetapkan menjadi tersangka atas hasil penganiayaan yang diduga dilakukannya kepada Mertuanya tersebut.

“Saya juga dituding dan difitnah oleh Margaretha karena telah menyekap dirinya bersama kedua anaknya yang sedang berada di Apartement St. Moritz Royal Suite, bilangan Kembangan, Jakarta Barat, pada Rabu hingga Kamis tanggal 29 – 30 September 2021,” papar TPS kepada awak media di pelataran Apartemen St. Moritz Royal Suite, Jakarta Barat pada Kamis akhir September 2021 lalu.

Namun, tudingan tersebut dengan tegas dibantah oleh TPS, karena menurutnya, dia menyambangi dan datang ke Apartement itu karena rindu kepada anak-anak, yang sudah sembilan bulan tidak pernah bertemu dengan kedua anaknya. Sebab dirinya tidak tahu dengan jelas dimana keberadaan dan bagaimana keadaan anak-anaknya. Karena selama ini sebagai seorang Ayah dia dihalang-halangi untuk bertemu dan berkomunikasi dengan anak-anaknya.

“Hingga saat ini kami juga belum bercerai dan belum ada Putusan Pengadilan, jadi tidak ada halangan saya untuk bertemu dengan anak-anak. Padahal saya sudah berupaya terus menerus untuk menemui dan menghubungi anak-anak, hanya saja keluarga dari tersangka Margaretha selalu berkata tidak mengetahui keberadaan Margaretha beserta anak-anaknya,” kata TPS.

Saat ditanya apakah selama itu dia pernah komunikasi dengan anak-anaknya? TPS menjelaskan bahwa selama sembilan bulan ini dirinya tidak pernah komunikasi apalagi bertemu. Karena menurutnya Ia juga baru mengetahui keberadaan anaknya itu.

“Tapi setelah saya mengetahui keberadaan anak-anak tersebut, apalagi ketika saya mendapatkan informasi bahwa salah satu dari anak ku pernah terjatuh di kolam renang Apartement ini,” jelasnya sambil mengatakan, kita masih menghargai keberadaan dan ketentuan dari manajemen apartement, dengan tidak langsung menerobos masuk ke dalam Apartement tersebut.

TPS mengungkapkan, sedari awal terlebih dahulu melakukan koordinasi kepada pihak manajemen untuk minta ijin, apakah dirinya bisa atau tidak masuk dan bertemu keluarganya tersebut. Namun tetap aja dirinya tidak bisa masuk untuk berjumpa dengan anak-anaknya, hal itu dikarenakan sistem keamanan dari Apartement yang sangat ketat, sebab hanya pemilik dan penghuni Apartement saja yang bisa masuk.

“Terpaksa kami di depan apartemen ini saja, karena sama sekali tidak bisa masuk. Bahkan saya juga tidak bisa melihat anak-anak, namun akhirnya ada utusan yang bisa naik ke unit tempat tersangka Margaretha berada, “ ungkap TPS.

Lebih Lanjut TPS menjelaskan, hanya dari pihak Manajemen bersama Polisi dari Polsek Menteng yang ingin menjemput paksa tersangka Margaretha. Namun, pada saat pihak manajemen apartemen bersama polisi dari Polsek Menteng naik dan mengetuk pintu tempat Margaretha bermukim selama ini secara baik-baik, tapi dari dalam ada suara yang menjawab bahwa disini tidak ada yg bernama Margaretha.

“Namun ketika melihat video dari Polisi, saya sangat yakin, bahwa suara itu adalah suara pembantu dan pengasuh anak-anak yang bernama Riyanti. Karena info yang saya dapatkan ini, Margaretha bersama anak tinggal disini sangat akurat, hal itu juga didukung oleh rekaman dari CCTV, sangat terlihat jelas bahwa tersangka Margaretha bersama Riyanti dan anak-anak benar tinggal di Apartement tersebut, “ jelas TPS.

TPS mengutarakan, sebenarnya penyidik bisa melakukan upaya paksa. Dengan menggunakan kewenangannya untuk melakukan pengecekan dan pengeledahan. Dikarenakan Margaretha sudah berstatus tersangka dan dia juga tidak kooperatif saat pemanggilan untuk diperiksa sebagai tersangka.

“Karena sebenarnya yang berhak menangkap Margaretha, apalagi dia sudah menjadi tersangka dan tidak kooperatif yaitu pihak penyidik dari Kepolisian. Tapi karena penyidik tidak juga bertindak, bahkan hingga saat ini pun tidak, terpaksalah saya sebagai orang tua yang ingin bertemu dengan anak-anak harus bertindak kemari,” papar TPS.

Ironisnya, lanjut TPS, tersangka Margaretha itu menyewa bukan atas namanya melainkan menggunakan identitas orang lain bernama Aliyah, yang tentunya menyalahi ketentuan dari perjanjian sewa Apartement karena penghuni yang tinggal tidak sesuai dengan identitas. Sehingga wajar kalau TPS sangat khawatir dengan keadaan dan keberadaan anak-anaknya.

Masih dalam keterangan TPS, dikarenakan tetap tidak bisa masuk untuk menemui anak-anaknya, akhirnya dengan sabar TPS rela menunggu di depan pelataran parkir depan Apartement. Namun ketika sedang menunggu d area parkiran, TPS mengaku,ada seorang Pria yang terus mengamat-amati dan mengambil foto dirinya dari kejauhan.

“Saya menduga orang tersebut adalah orang yang ditugaskan oleh tersangka Margaretha, orang tersebut bernama Fauzan Farid. Dia ditugaskan untuk menginformasikan keadaan dan kegiatan yang ada di area parkiran, “ ungkap TPS.

Lanjut penjelasan TPS, Karena rasa kangen dan rindu yang dialami, dia tetap menunggu anak-anaknya hingga larut malam sampai hujan berhenti d area parkir, namun yang ditunggu tetap tak kunjung tiba. Karena keberadaannya telah diendus, tersangka Margaretha berusaha kabur kembali.

Modusnya untuk kabur tersebut, kata TPS, dengan cara menjatuhkan tas yang berisi kunci akses kepada orang suruhannya itu, namun kejadian tersebut diketahui oleh security. Ironisnya lagi, ketika TPS sedang menunggu kehadiran anak-anaknya di area parkir di apartement tersebut dirinya didatangi puluhan orang preman bersama keluarga tersangka Margaretha.

“Pada saat kami sampai disini tadi, kami didatangi orang-orang berkulit hitam seperti preman sekitar 50 orang, tapi setelah dilakukan kordinasi, akhirnya mereka pergi setelah mengetahui bahwa saya adalah suaminya. Tapi yang lebih anehnya lagi, Ibu dari Tersangka Margaretha yang bernama Juniar Bella, malah menunjuk-nunjuk dan mengancam saya seraya berkata, ‘Awas Kau ya’, dan Kakak Laki-laki dari Tersangka Margaretha yang bernama Dame Sihombing pun dengan emosi menghampiri dan mau menampar saya, namun dihalangi oleh istrinya,” ucap TPS.

Beredar Dugaan Berita Bohong

Ironisnya lagi, lanjut TPS, selang beberapa jam kemudian timbul pemberitaan di puluhan media online yang menyatakan bahwa TPS telah menyekap Tersangka Margaretha bersama anaknya

TPS mengklarifikasi, berita itu tidak benar alias bohong karena sudah mencemarkan nama baiknya. Berita itu juga sangat tendensius, karena telah menyerang harkat dan martabatnya, tanpa adanya konfirmasi terlebih dahulu. Berita tentang menyekap anak dan istrinya itu Fitnah yang sangat keji, dan dipublikasikan tanpa adanya konfirmasi kepada saya terlebih dahulu. Terkait pemberitaan tersebut saya akan meminta hak jawab, serta melaporkan puluhan media online tersebut ke dewan pers, karena mereka tidak profesional, sebab kejadian yang sebenarnya, Margaretha itu panik takut ditangkap bukan disekap, karena statusnya sebagai tersangka, “ kata TPS.

“Apa yang disekap, dan bagaimana mungkin saya menyekap mereka di Apartement yang high security system ini? Saya tidak akan berbuat sekeji itu terlebih kepada anak saya sendiri. Saya kesini karena kangen dan ingin ketemu dengan anak-anak, setelah sembilan bulan ini saya tidak pernah komunikasi dan ketemu, “ ucapnya mengklarifikasi.

Sementara itu, Doktor Hukum Pidana yang notabane Orang tuanya TPS, Dr. Djonggi Simorangkir SH MH dalam penjelasnya terkait pemberitaan yang menuding Anaknya itu melakukan penyekapan.

“Berita yang dimuat di puluhan media online terhadap TPS itu fitnah, dan kami akan menempuh jalur hukum, karena beritanya itu hoax. Pasalnya, Selasa siang DR. Ida Rumindang korban penganiayaan yang dilakukan Margaretha putri Mantan Sekjen HKBP, Pdt. Mori Sihombing ini mendatangi ke Polsek Menteng. Lalu polisi mengatakan akan menangkap tersangka Margaretha di Apartemen, sebab keberadaan tersangka Margaretha selama ini tempatnya selalu berpindah-pindah,” jelas Djonggi via Whatsapp di Jakarta, pada Jumat, (1/10/21).

Lebih lanjut Djonggi menerangkan, karena istrinya tersebut mendapat informasi dari penyidik Polsek Menteng mau menangkap tersangka, makanya Ibu Ida menginfokannya ke TPS.

“Jika Margaretha ditangkap otomatis anak-anak akan terlantar, sebab sudah 9 bulan TPS tidak pernah ketemu dengan kedua putrinya tersebut. Ironisnya, Hpnya diblokir dan tidak dapat Video Call kepada Bapaknya si TPS, mendengar hal tersebut Theo bergerak cepat dan langsung datang ke Apartemen tersebut karena sudah kangen dengan anaknya, “ ucap Djonggi.

“Penyidik dari Polsek Menteng yang akan menjemput tersangka Margaretha itu adalah Pak Giyono. Sedang di Apartemen itu TPS hanya menunggu di pelataran parkiran Mobil bersama adik dan temannya dari Bandung. Setelah menunggu dan berusaha mengetuk pintu, tersangka Margaretha tidak keluar juga, sehingga pada akhirnya Polisi balik kanan tanpa hasil.

Mengetahui keberadaan anaknya, kata TPS, dia langsung datang dari Bandung. Namun, TPS tidak berhasil ketemu dengan anak dan istrinya Margaretha.

“ lantas, bagaimana mungkin saya diberitakan telah menyekap mereka, ketemu aja tidak bisa, malah dituding menyekap, aneh ya, “ ujar TPS.

Selain itu, ungkap TPS, dia mendapat informasi kalau anak-anaknya kelaparan dan belum makan di dalam Apartemen itu. Hal ini dikarenakan Tersangka Margaretha dan pembantu Riyanti tidak berani turun ke bawah.

“Mendengar anak kelaparan, saya langsung pesankan makanan dan selanjutnya makanannya diantarkan oleh security ke unit kediaman tersangka Margaretha berada,” ujar TPS seraya kebingungan dengan mengatakan tadi katanya tidak ada yang namanya Margaretha, tapi anak-anaknya kelaparan. Lalu kok bisa ya mereka tinggal disini, padahal biaya sewanyanya mahal, bisa Rp.11 juta sebulan, “ tambah TPS.

“Saya ini dari Bandung, disini bersama adik-adik saya, supir dan anggota saya” ucap TPS sambil menunjukkan orang yang dimaksud seraya mengatakan ada tujuh orang, kalaupun dikatakan ada orang hitam itu adalah lawyer atau penasehat hukum saya. Malah sebaliknya yang mendatangkan Preman sebanyak kurang lebih 50 orang adalah Tersangka Margaretha itu sendiri yang dipimpin oleh Ayah dari tersangka Margaretha yang bernama Mori Sihombing,” tandas TPS.

Ketika dikonfirmasi, Jumat awal Oktober 2021 sore kepada Tersangka Margaretha via Whatsapp, dia mengatakan sedangkan berada di Polres Jakbar (Jakarta Barat). Namun hingga berita ini diturunkan. Margaretha tidak membalas pesan Whatsapp selanjutnya, kapan waktunya untuk wawancara. Padahal sebelumnya dia mengatakan boleh, tetapi tidak merespon atau membalas pesan selanjutnya.

(BURHANUDDIN/MULYADI)

banner 300x250

Related posts

banner 468x60